JALAN PALEMBANG-JAMBI (BETUNG-BAYUNG LENCIR) “MATI SUCI” – LUBANG BESAR DAN GELOMBANG MERajalela, KEMACETAN HARIAN, DEBU BERBAYANG – WARGA MARAH DAN MENDESAK PEMERINTAH TINDAK SEKARANG!  

Mntv Sumsel.com.- Kabupaten Musi Banyuasin – 18 Desember 2025, _ Jalan penghubung strategis Palembang-Jambi, yang seharusnya menjadi tulang punggung mobilitas orang dan barang antara dua kota besar, kini terjalin menjadi jalan “mati suci” yang penuh masalah. Khususnya ruas dari Betung sampai Bayung Lencir, kondisi jalan semakin memburuk seiring waktu – dengan banyak bagian yang mengalami kerusakan parah berupa lubang besar yang bahkan mampu menelan ban kendaraan, serta permukaan yang bergelombang seperti ombak yang membuat pengemudi terpaksa melaju dengan kecepatan jalan kaki. Titik terburuk dari semua itu terletak di Desa Simpang Bayat, Kecamatan Bayung Lencir, di mana kerusakan sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan dan mengganggu keseluruhan arus lalu lintas.

 

Jalan yang dirancang untuk menjadi jalur yang nyaman dan aman bagi semua pengguna, mulai dari sepeda motor, mobil pribadi, hingga kendaraan berat, justru kini menjadi sumber kesusahan dan bahaya. Banyak pengemudi yang harus berhati-hati menyiasati lubang-lubang yang tersebar di seluruh ruas, bahkan terpaksa berbelok ke jalur berlawanan untuk menghindari kerusakan pada kendaraan atau kecelakaan. Tak jarang terjadinya tabrakan kecil antara kendaraan karena semuanya sibuk menghindari lubang, membuat perjalanan yang seharusnya cepat menjadi penuh tekanan dan risiko.

 

Selain masalah keamanan, kerusakan jalan ini juga menjadi penyebab utama kemacetan panjang yang terjadi hampir setiap hari, bahkan di jam-jam yang tidak seharusnya macet. Pasalnya, lubang dan gelombang membuat kendaraan terpaksa melambat secara drastis, sehingga arus lalu lintas menjadi macet parah. Yang lebih menyakitkan, perbaikan yang pernah dilakukan oleh pihak terkait hanya sebatas pengecoran koral atau pengerasan permukaan tanpa menggunakan aspal – perbaikan semacam ini hanyalah penutup lubang sementara yang cepat rusak lagi ketika dilintasi kendaraan besar atau hujan lebat.

 

Saat musim hujan tiba, kondisi menjadi lebih parah: lubang-lubang besar terisi genangan air yang dalam, sehingga pengemudi tidak bisa menilai kedalaman lubangnya dan rawan terjebak atau menabrak benda di dalamnya. Sementara itu, di musim panas, debu yang terbang banyak dari permukaan jalan yang tidak rata menjadi ancaman bagi kesehatan warga sekitar. Banyak warga melaporkan mengalami masalah pernapasan, batuk, dan pilek akibat terpapar debu setiap hari – terutama mereka yang tinggal di tepi jalan atau bekerja di daerah tersebut.

 

Beban kendaraan besar yang terus-menerus melintas juga semakin memperparah kondisi jalan. Truk-truk yang mengangkut barang dari Palembang ke Jambi atau sebaliknya harus menyeberangi permukaan yang tidak rata, sehingga menambah tekanan pada jalan yang sudah lemah dan mempercepat terjadinya kerusakan. Masalah ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun, namun keterlambatan dan kurangnya perhatian dari pihak pemerintah daerah menjadi kendala utama yang mencegah perbaikan yang mendasar.

 

Kerusakan jalan Palembang-Jambi (Betung-Bayung Lencir) tidak hanya menghambat mobilitas orang dan barang, tapi juga berdampak negatif signifikan pada perekonomian lokal. Pedagang yang harus membawa barang ke pasar atau toko kesulitan menjaga jadwal, sehingga barang bisa telat tiba dan hilang nilai. Petani yang ingin menjual hasil panen ke kota besar juga kesulitan karena kendala jalan, membuat harga hasil panen turun atau bahkan tidak terjual. Bahkan, beberapa usaha kecil di sekitar jalan juga merasakan dampaknya, karena pengunjung semakin jarang datang akibat kondisi jalan yang buruk.

 

Suasana kemarahan dan keprihatinan semakin membanjiri masyarakat dan para pengemudi. Banyak dari mereka yang sudah kecewa dengan sikap pemerintah yang terasa acuh tak acuh terhadap masalah yang jelas-jelas mendesak. “Kami tidak ingin lagi mendengar omongan kosong – kami tidak ingin lagi terjadi kecelakaan karena kondisi jalan yang buruk ini! Beberapa bulan lalu, ada tetangga kami yang kecelakaan karena terjatuh di lubang besar, sekarang masih dirawat di rumah sakit. Pemerintah harus segera bertindak, tidak boleh menunda-nunda lagi!” ujar seorang warga Desa Simpang Bayat yang enggan menyebutkan namanya.

 

Masyarakat dan para pengemudi menyampaikan harapan yang tegas kepada pemerintah daerah Kabupaten Musi Banyuasin dan pihak terkait untuk segera mengambil tindakan perbaikan yang mendasar dan berkelanjutan. Perbaikan jalan ini bukan hanya soal memperbaiki infrastruktur fisik, tapi juga tentang menjaga keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah diharapkan memprioritaskan anggaran dan sumber daya untuk perbaikan jalan ini, serta memastikan bahwa pekerjaan dilakukan dengan kualitas yang baik – tidak lagi perbaikan semata wayang yang cepat rusak.

 

Hanya dengan jalan yang aman, nyaman, dan mulus, mobilitas orang dan barang bisa berjalan lancar, perekonomian lokal bisa berkembang, dan masyarakat bisa hidup lebih tenang tanpa khawatir akan kecelakaan atau masalah kesehatan akibat kondisi jalan yang buruk. Waktu untuk bertindak sudah tiba – tidak ada alasan lagi untuk menunda!

Wartawan mntv ( sugianto.)